Informasi mengenai disabilitas

Sensory Processing

Pengertian
Pengertian Gangguan sensorik atau indra adalah perubahan dalam persepsi derajat serta jenis reaksi seorang yang diakibakan oleh meningkat, menurun atau hilangnya rangsang indra.

Penyebab

Faktor dari luar (eksternal) : Faktor dari luar meliputi pola asuh keluarga,lingkungan tempat tinggal dan lingkungan bermain. Mungkin juga kita bisa mengobservasi di lingkungan aslinya ataupun dapat menanyakan langsung kepada orang-orang yang berhubungan dengan anak seperti orang tuanya.
Faktor dari dalam (internal) : Faktor internal yang menjadi penyebab anak mengalami sensory integration disorder adalah berasal dari anak yang mengalami sensory integration disorder itu sendiri seperti taraf kecerdasan anak, masalah visual, persepsi perseptual, dan gerak tubuh (motorik) dan sebagainya.

Ciri-Ciri Khusus
a) Sensorik Perabaan
Input yang didapatkan berasal dari reseptor di kulit yang bisa berupa sentuhan, tekanan, suhu, rasa sakit dan gerakan bulu-bulu atau rambut. Jika sensorik perabaan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:
• Tidak mau atau tidak suka disentuh
• Menghindari kerumunan orang
• Tidak menyukai bahan-bahan tertentu
• Tidak suka rambutnya disisir
• Bereaksi berlebihan terhadap luka kecil
• Tidak betah dengan segala hal yang kotor.

b) Sensorik Pendengaran
Input yang didapatkan berasal dari suara-suara di luar tubuh. Jika sensorik pendengaran mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:
• Mudah teralih perhatiannya ke suara-suara tertentu yang bagi orang lain dapat diabaikan
• Takut mendengar suara air ketika menyiram toilet, suara vaccum cleaner, hair dryer, suara gonggongan anjing dan bahkan suara detik jam
• Menangis atau menjerit berlebihan ketika mendengar suara yang tiba-tiba
• Senang mendengar suara-suara yang terlalu keras
• Sering berbicara sambil berteriak ketika ada suara yang dia tidak sukai.

c) Sensorik Penciuman
Input yang didapatkan berasal dari aroma atau bau yang tercium. Jika sensorik penciuman
mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:
• Reaksi berlebihan terhadap bau tertentu seperti bau kamar mandi atau peralatan kebersihan
• Menolak masuk ke suatu lingkungan karena tidak menyukai baunya
• Tidak menyukai makanan hanya karena baunya
• Selalu menciumi barang-barang atau orang disekitarnya
• Sulit membedakan bau.

d) Sensorik penglihatan
Input yang didapatkan berupa warna, cahaya dan gerakan yang ditangkap oleh mata.
Jika sensorik penglihatan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:
• Menangis atau menutup mata karena terlalu terang karena ia terlalu peka dengan sinar terang
• Mudah teralih oleh stimulus penglihatan dari luar
• Senang bermain dalam suasana gelap
• Sulit membedakan warna, bentuk dan ukuran
• Menulis naik turun di kertas tanpa garis.

e) Sensorik Pengecapan
Inputnya didapatkan dari semua hal yang masuk ke mulut dan juga lidah. Jika sensorik pengecapan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:
• Suka memilih-milih makanan (picky eater), menolak mencoba makanan baru sehingga lebih senang dengan makanan yang itu-itu saja
• Tidak suka atau menolak untuk sikat gigi
• Suka mengemut makanan karena ada kesulitan dengan mengunyah, menghisap dan menelan
• Mengiler
• Sering memasukkan barang-barang ke mulut.

f) Sensorik Propioseptif (gerak antar sendi)
Input yang didapatkan berupa gerakan otot dan sendi, akibat adanya tekanan sendi atau gerakan tubuh. Jika sensorik propioseptif mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:
• Senang aktivitas lompat-lompat
• Suka menabrakkan atau menjatuhkan badan ke kasur atau orang lain
• Sering terserimpet kaki sendiri atau benda sekitar
• Sering menggertak gigi
• Pensil patah saat menulis karena terlalu kuat memberikan tekanan
• Terlihat melakukan segala sesuatu dengan kekuatan panuh.

g) Sensorik vestibular (keseimbangan)
Input yang didapatkan dari organ keseimbangan yang berada di telinga tengah atau perubahan gravitasi, pengalaman gerak dan posisi di dalam ruang. Jika sensorik vestibular mengalami
gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:
• Menghindari mainan ayunan, naik turun tangga dan perosotan
• Tidak suka atau menghindari naik eskalator
• Takut dengan ketinggian
• Senang diayun sampai tinggi
• Senang dilempar ke udara.

Cara Menangani

Salah satu cara untuk mengatasi masalah sensori integrasi atau sensory integration disorder adalah dengan menggunakan metode terapi sensori integrasi. Terapi sensori integrasi, sebagai bentuk terapi okupasi mulai popular diberikan untuk tata laksana anak dengan berbagai gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku. Terapi sensori integrasi menekankan stimulasi pada tiga indera utama, yaitu taktil, vestibular, dan proprioseptif. Ketiga sistem sensori ini memang tidak terlalu familiar dibandingkan indera penglihatan dan pendengaran, namun sistem sensori ini sangat penting karena membantu interpretasi dan respons anak terhadap lingkungan.

Bentuk utama dari terapi integrasi sensorik (sensory integration) adalah jenis terapi okupasi yang menempatkan anak di sebuah ruangan khusus (kamar snoezelen) dapat terdiri dari beberapa elemen (input) yang dirancang untuk merangsang dan menantang semua indera. Di dalam ruang terapi itu, disediakan berbagai macam input untuk dapat diolah, input yang tersedia meliputi input proprioseptif berupa perlengkapan main, yaitu luncuran, “prosotan”, input vestibular, berupa berbagai macam bentuk ayunan, trampolin. Input taktil (kulit) diwakili oleh bermacam-macam tektrus permukaan lantai, kain, dan lain-lain. Individu memasuki ruangan snoezelen dengan kesempatan untuk eksplorasi gratis.